Sabtu, 12 November 2011

Bahagia di Akhir Cerita

     Pagi ini aku bangun pagi-pagi sekali. Gak tau kenapa rasanya bersemangat sekali untuk segera pergi ke sekolah. Mungkin karena hari ini adalah hari pertama masuk sebagai siswi SMA kelas XI setelah libur tiga minggu kemarin.Deg-degan juga sih, sekelas sama siapa ya kira-kira.
     Seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan sepeda kesayanganku. Di tengah jalan, aku bertemu dengan Tyas. Tyas adalah teman sekelasku di waktu kelas X.
"Kira-kira kita sekelas lagi gak ya?", tanya Tyas. "Semoga Yas, aku berharap si kita sekelas lagi, biar bisa gila-gilaan bareng lagi kayak dulu,hahaha", jawabku diiringi tawa. 
     Sekitar 10 menit perjalanan, akhirnya aku dan Tyas sampai di sekolah kami, SMA N 1 Rembang. Seperti biasa, selalu ada upacara di hari Senin. Setelah upacara selesai, tiba saatnya kami para siswa baik kelas X, XI, maupun kelas XII sibuk berhamburan mencari kelas dimana kami ditempatkan. ketika melihat pengumuman penempatan kelas di papan pengumuman, ternyata namaku terdaftar di kelas XI ia 8. Sehingga tanpa pikir panjang aku langsung masuk dan memilih tempat duduk. aku senang sekali ternyata di kelas itu juga ada Tyas, Riri, Moly, Fahmi dan Ridho, yang semuanya merupakan teman dekatku di kelas X. Selain mereka juga ada teman-teman lain yang berasal dari berbagai kelas X. Salah satunya adalah Dhan, anak seorang guru di sekolahku.
      Hari demi hari telah kami lewati bersama di kelas kami. Sampai tak terasa 6 bulan lamanya kami telah melalui hari-hari bersama. Saat libur tengah semesterpun tiba. Aku memutuskan untuk berlibur ke rumah Pakdhe di Semarang. Seminggu sebelum liburan, Dhan meminta nomor HPku. Selama 6 bulan terakhir ini, aku secara tak sadar telah memperhatikan cowok itu. Cuek, gak banyak omong, itulah Dhan yang aku kenal.
     Selama liburan di Semarang, ternyata Dhan juga berlibur di Semarang. Dari sinilah kami jadi sering share dan nyambung kalo ngomongin seputar liburan kami disini. Dari seringnya sms-an, tiba-tiba ada sesuatu dari diri Dhan yang aku juga gak tau apa, bisa membuat perasaanku senang ketika mendapat sms darinya. 
     Liburanpun telah usai, dan sudah waktunya kembali menjalani rutinitas seperti biasa, yaitu bersekolah. 
"Hai Dhan", sapaku kepada Dhan yang sedang duduk di bangkunya. "Hai juga Sya, gimana nih liburannya kemarin?seru?", tanya Dhan. "emmm biasa aja sih, lha kamu sendiri?", tanyaku sambil menaruh tas di bangkuku. "sama Sya. Eh aku ke depan dulu ya ", jawab Dhan sambil berlalu dari hadapanku.
     Aku hanya memandangnya hingga dia menghilang di balik pintu kelas. Rasa yang ada dalam diriku semakin tak jelas. apa mungkin???
"heh Sya, bengong aja lu", sapa Ridho yang membuyarkan lamunanku. "eh Dho,haha enggak tuh, lagi ngelamun aje", jawabku asal. "yee sama aja kali, huu dasar", kata Ridho sambil menjitak kepalaku. dasaaaar.
     Sehari, dua hari, tiga hari, dari hari ke hari hubunganku dengan Dhan semakin dekat. Dhan mulai terbuka dengan kehidupannya. Termasuk kisah asmaranya. Ternyata Sari, yang juga teman sekelasku adalah mantan pacar Dhan. Rasa khawatirpun timbul dari dalam diriku.Khawatir kalau Dhan suka dan deket lagi dengan Sari."Astaghfirullahal'adim, jangan su'udzon Asya", batinku dalam hati.
     Kedekatanku dengan Dhan semakin membuatku yakin aku suka atau lebih tepatnya aku syang sama dia. Dan tentang perasaan Dhan terhadapku, aku masih ragu. Apakah dia juga mempunyai perasaan ynag sama denganku atau tidak.dari cerita-cerita yang aku dengar, Dhan juga mempunyai perasaan yang sama denganku.  Rasanya seneng banget ketika mendengar itu dari temanku.
      Sampai suatu hari, waktu jam istirahat, aku mendengar pembicaraan Dito, Dhan dan Kiki. 
"Dhan, gimana Asya?dapet info apa aja lu tentang dia?", tanya Dito. "banyak si Dit, trus gimana rencana lo selanjutnya?"jawab Dhan dengan raut muka sedikit aneh. "aku akan segera nyatain perasaanku, thanks Dhan udah mau bantu aku, emang sobat gua lu,haha. Ya gak Ki?", kata Dito dengan wajah sumringah. "Yoi Dit,haha", jawab Kiki diikuti tawa olehnya dan Dito. Dhan hanya tertawa kecil. 
Betapa sedihnya hatiku mendengar kenyataan ini. aku sekarang tahu, kedekatan, perhatian, dan kepedulian Dhan kepadaku hanya untuk Dito, bukan Dhan. Aku sangat kecewa dengan Dhan. aku menangis, iya, aku menangis.
     semenjak kejadian itu, aku selalu berusaha menghindar dari Dhan. Hingga suatu pulang sekolah, Dhan menghampiriku. "Sya kamu kenapa?ada yang salah sama aku?kenapa akhir-akhir ini kamu ngehindar dariku?". "aku gakpapa, maaf aku mau pulang.", jawabku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. 
"Sya, tolong jelasin ada apa", kata Dhan mencegahku pergi. Air mataku semakin tak tertahankan, tangiskupun pecah. "kenapa Dhan?kenapa kau tega mempermainkanku?" "hei Sya, ada apa denganmu?aku mempermainkanmu?apa maksudmu?", tanya Dhan bingung. "Aku kira kamu perhatian, peduli, care sama aku itu tulus dari hatimu.Tapi apa?kamu melakukan itu hanya untuk Dito kan?", tanyaku disela isak tangisku. "Enggak, itu semua gak bener Sya, aku tulus dekat sama kamu".
"Bohong!aku denger sendiri pembicaraanmu dengan Dito dan Kiki kemarin".
Dhan menghela nafas kemudian menjawab, "oke aku ngaku. awalnya aku memang ngebantu Dito, tapi semakin lama aku malah merasa aku bener-bener suka sama kamu. setiap Dito nanya aku tentang kamu, aku merasa semakin gak rela kalau kamu sampai menjadi milik Dito. aku gak tahu kenapa perasaanku jadi seperti ini ke kamu. aku bingung Sya, di satu sisi Dito temanku, dan aku merasa aku harus membantunya. tapi di sisi lain aku malah terjebak dalam rencanaku sendiri. aku malah menyukaimu. dan kedekatan kita selama ini, itu sangat berarti buatku Sya. Tolong percayalah", jelas Dhan panjang lebar.
     Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. aku hanya bisa menangis lemah di hadapan Dhan. Aku bingung, apa aku harus percaya dengan perkataan Dhan atau tidak. 
     "itu semua bener Sya", kata Kiki yang tiba-tiba ada dibelakangku. "kemarin Dhan cerita semua kepadaku. dia bingung, harus milih mana. Tetap membantu Dito dan kehilangan kamu atau nyatain perasaannya ke kamu dan dia akan tau resikonya dari Dito. Dhan sayang sama lo Sya", jelas Kiki.
Aku terdiam sejenak dan memberanikan diri untuk bertanya, "apakah semua itu bener Dhan?". 
"bener Sya, aku bener-bener sayang sama kamu,kamu harus percaya itu", jawab Dhan sambil menatap tajam ke arahku dan menggenggam erat tanganku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar